Minggu, 28 April 2013

MANAJEMEN AKTIVITAS



MANAJEMEN AKTIVITAS
            
           Sewaktu mengetikkan kata “waktu adalah” di google, sang mesin pencari, saya menemukan beberapa kalimat yang sering dicari orang dengan kata “waktu adalah”. Kira-kira apa yang teman-teman bisa tebak?
Kalimat-kalimat itu adalah:
-          waktu adalah uang
-          waktu adalah pedang
-          waktu adalah kesempatan
-          waktu adalah ilusi
-          waktu adalah ilmu
-          waktu adalah ibadah
-          waktu adalah kehidupan
-          waktu adalah jahat
Ada begitu banyak makna yang diberikan kepada waktu.

Sebenarnya kita sedang membahas manajemen waktu atau manajemen aktivitas?
Nyatanya, manusia tidak bisa mengatur waktu. Waktu tidak bisa dipercepat atau diperlambat, diperbanyak atau dikembangbiakkan. Waktu itu berjalan konstan. Istilah “manajemen waktu” yang sering kita dengar sebenarnya bicara soal me-manage aktivitas kita. Intinya adalah memastikan bahwa semua aktivitas dapat diselesaikan dalam alokasi waktu yang tersedia secara aktual dengan limitasinya.
Waktu yang Tuhan berikan untuk tiap orang sama (24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari per tahun). Tapi anehnya, ada orang yang seolah kelebihan waktu sedangkan yang lainnya merasa selalu kekurangan waktu. Ada orang yang begitu santainya sehingga ia seperti memiliki seluruh waktu yang ada di dunia. Kalo ditanya, “sudah ngerjain ini belum?” belum, “sudah ngerjain itu belum?” belum, nantilah.kan masih lama dikumpulnya. Ada yang seperti itu?
Sedangkan yang lain begitu sibuk sehingga tiap saat begitu berharga dan sering kehabisan waktu. “Jadi sudah mulai ktb kalian?” belum euy, aku begini, aku begitu, adik-adikku sibuk..aku juga sibuk.. dll. Atau di kos, “main yook..” aduh aku ga bisa euy. “jam segini?” aku kuliah. Jam segini? aku ketemu dengan orang. Jam segini? aku rapat euy.. hari itu? aduh..maaf bener gak bisa..udah ada agenda.. Ada yang seperti itu? Terlalu santai atau terlalu sibuk dengan aktivitas, kita lah yang menentukannya.
Sebagai mahasiwa/i yang adalah murid Kristus, kita ingin sekali melakukan banyak hal. Belajar, mengerjakan tugas/laporan, butuh istirahat, KTB, rapat, kunjungan, UKM, BEM, les ini les itu, ikut lomba ini lomba itu, ingin melakukan hobi, ingin bermain dengan teman-teman, ingin mewujudkan tiap target-target. Musa dalam Mazmur 90 ayat 10a berkata: “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun”
Di hidup yang singkat ini, banyak hal yang ingin kita lakukan. Tapi usia kita terbatas. Apalagi di dunia mahasiswa di mana saat ini kita dibina dan melayani di PMK, banyak hal yang kita ingin kerjakan, tapi waktu kita terbatas. Lebih jauh lagi, apa yang kita lakukan saat ini memiliki pengaruh untuk di masa depan. Oleh karena itu kita mesti memiliki manajemen aktivitas yang baik.  

Tujuan Hidup Murid Kristus
Pertama yang harus diketahui dan ditentukan adalah tujuan hidup mengapa kita diciptakan. Seperti pulpen, diciptakan untuk sebuah tujuan, demikian kita. Kenapa tujuan hidup itu penting? Karena dengan memiliki tujuan hidup yang jelas, kita bisa memilih apa yang harus dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan dan juga apa yang harus diabaikan. Hal ini yang menjadi landasan prioritas hidup kita, menentukan mana-mana yang penting yang menunjang tujuan hidup dan mana yang cukup hingga tidak penting.
Apa tujuan hidup kita masing-masing? Hidup yang tanpa tujuan mirip menembak panah tanpa papan sasaran. Ribuan anak panah boleh ditembakkan, tapi ke mana? Tanpa sasaran yang jelas, yang kita lakukan hanyalah membuang waktu belaka. Ibarat melakukan perjalanan, kita terus berjalan tapi tidak pernah sampai ke kota manapun. Dari memiliki tujuan hidup, kita bisa mengelola waktu (aktivitas hidup kita).
Sebagai murid Kristus, dalam katekismus Westminster yang mengambil kesimpulannya dari Alkitab (Rm. 11:36; Mzm. 86; Yes. 60:21; 1 Kor. 6:20; Mzm. 16:5-11; 144:15; Why 21:3-4), mendefinisikan bahwa tujuan hidup manusia adalah “memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya.” Memuliakan Allah berarti membawa pujian, penghormatan, pengagungan, kemahsyuran, kepercayaan, dan penyembahan bagi Allah serta mencerminkan sifat-sifat Allah sendiri. Memuliakan Allah juga berarti menyenangkan Allah karena kemuliaan Allah berarti kekudusan Allah, kebesaran, dan kebenaran Allah. Menikmati Dia selama-lamanya berarti memiliki hubungan yang erat dengan-Nya baik di dunia ini maupun dalam kekekalan.
Kemudian dari tujuan akhir tersebut buatlah tujuan-tujuan turunan yang merupakan sasaran-sasaran kecil sekaligus nyata bagi kita sesuai dengan kehendak Tuhan. Untuk hal ini perlu perenungan dan petunjuk Tuhan. Alangkah lebih baiknya jika telah mengetahui panggilan hidup spesifik kita. Namun itu tidak dibahas di sini.
            Agar tujuan tidak mengawang-awang, tuliskanlah. Tujuan bisa dibuat untuk dicapai dalam setiap hari, setiap bulan, setiap tahun, dst. Tujuan tertulis sebagai sumber acuan melakukan kegiatan dan alat evaluasi.
Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarang memukul 
(I Korintus 9:26)
Orang tidak pernah akan berhasil sebelum ia tahu dengan jelas apa yang ditujunya.

Tujuan yang dibuat setidaknya memiliki 5 sifat ini:
1.      Spesific (khusus, jelas, tidak ambigu)
2.      Measurable (dapat diukur)
3.      Achievable (bisa dicapai)
4.      Realistic (tidak mengawang-awang)
5.      Time bound (ada target waktu)


Enam bidang hidup yang penting
- kehidupan rohani        : kapan waktu rutin untuk bersekutu dengan Allah, disiplin rohani (sate, BR, PA,                            ibadah minggu, PB, dll).  Dan 6:11b: Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem: tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.
- kesehatan  : kapan waktu untuk olahraga, untuk istirahat (sabbat), tidur,                                   refreshing.
- keluarga    : kapan waktu untuk bersama keluarga, misalnya waktu telpon,waktu pulang ke rumah
- pekerjaan (mahasiswa): kapan waktu untuk belajar, membaca, mengerjakan tugas, les. Seandainya saya mempunyai waktu sepuluh jam untuk menebang pohon, saya akan melewatkan delapan jam pertama untuk mengasah kapak saya (Abraham Lincoln).  
- sosial (+pelayanan) :kapan waktu rapat, waktu berkunjung, waktu melayani, bermain dengan teman-teman.
- finansial                :bagaimana waktu mengalir bukan menyebabkan banyak hutang, melainkan bertambah dengan menabung dan menjadi berkat untuk orang lain. 

Perencanaan
Good plan is half work done. Rencana yang bagus sama dengan sudah selesainya setengah pekerjaan. Inilah manfaat besar dari perencanaan.
Hal-hal penting yang perlu dikerjakan sebelum perencanaan:
- Catat kebiasaan selama satu minggu, untuk lebih objektif, catat untuk satu bulan. Prinsipnya cari tahu seperti apa sebenarnya waktu yang didayagunakan selama ini. Apakah sudah efisen atau belum. Bisa dibuat persentase berapa yang positif dan efektif dan sebaliknya yang negatif dan sia-sia. Apakah kita sudah mengalokasikan waktu yang cukup untuk keenam bidang kehidupan yang penting tadi.
- Analisa “waste”. Misalnya menonton terlalu lama, obrolan yang lama, menunda-nudan pekerjaan, dumay, main game, dll.
- Kebiasaan VS tujuan hidup. lihat secara obyektif. Jika menyimpang dari tujuan, saatnya duduk dan membuat rencana. Sesuaikan dengan tujuan.

Buatlah rencana jangka panjang.
Gumulkan bersama Tuhan. Apa yang hendak dicapai, kapan waktunya, bagaimana caranya.

Buatlah rencana jangka pendek.
Dari rencana jangka panjang, buatlah rencana jangka pendek. Rencana jangka pendek bisa berupa rencana mingguan atau rencana harian. Dalam rencana harian, dapat dibuat daftar tindakan (to do list) untuk dikerjakan tiap hari. Namun rencana harian sering kaku dan membatasi. Rencana mingguan lebih fleksibel karena daftar tindakannya disesuaikan dengan peran masing-masing orang. 

CONTOH
Peran saat ini:
1.      Pengurus               7. Pelayan                    12. ..................
2.      PKTB                    8. Anggota Padus       13. ...................
3.      Asisten Lab           9. Pengurus HIMA     14. ...................
4.      Adik PA                10. Les Tambahan       15. ...................
5.      Anggota futsal      11. ........................      16. ...................

Cek kondisi yang mana saat ini. Kondisi pertama adalah ciri burn out dengan terlalu banyaknya aktivitas yang tidak efisien. 

Kondisi I
-       Konflik dengan temanku
-       Sakit
-       Stres
-       Gila
-       Kegemukan
-       Wajah sinis
-       Tidak bisa tidur
-       Kuatir
-       Terburu-buru
-       Sering telat
-       Tidak punya waktu istirahat
-       Marah-marah/sensitif
-       Tugas menumpuk
-       Jarang ada di kostan
-       Merasa lelah
-       Malas bangun
-       Bingung mau ngerjain apa

 Kondisi II
-       Punya waktu kosong
-       Punya tabungan
-       Tahu prioritas
-       Bisa fokus
-       Punya jadwal liburan
-       Tertawa lepas
-       Bisa diajak santai
-       Merasa lelah
-       Merasa sukacita
-       Sering diajak curhat
-       Menikmati sate
-       Masih bisa bercanda
-       Siap dimintai bantuan
-       Bisa mengerjakan hobby
-       Menikmati waktu doa pribadi
-       Hangat dengan keluarga
-       Punya waktu baca buku kuliah

    Mengelola 7 peran secara seimbang dan berintegritas dalam agenda 1 minggu (atau bulan, semester) berdasarkan prioritas.

     Peran
        To do  
       Prioritas
     Anak
       -          Menelepon mama ultah
1
     Mahasiswi
       -          Baca buku X bab II persiapan UAS.
2
     PKTB


    Pengurus











               Buatlah aturan prioritas:
1.      Penting dan mendesak
2.      Penting tapi tidak mendesak
3.      Tidak penting tapi mendesak
4.      Tidak penting dan tidak mendesak.

Setiap melakukan kegiatan apapun, anda harus bertanya: “ini ada kaitannya dengan pencapaian tujuan atau hanya buang waktu saja?

Masukkan semua kegiatan berdasarkan peran dan prioritas ke dalam agenda mingguan.
    Waktu 
      Senin
      Selasa
      Rabu
      Kamis
      Jumat
      Sabtu
     Minggu
   05.00-05.30















   06.00-06.30















   07.00-07.30















   08.00-08.30















   09.00-09.30















   10.00-10.30















   11.00-11.30















   12.00-12.30















   13.00-13.30















   14.00-14.30















   15.00-15.30















   16.00-16.30















   17.00-17.30















   18.00-18.30















   19.00-19.30















   20.00-20.30















   21.00-21.30















   22.00-22.30















   23.00-23.30















   24.00-00.30
























  Pendelegasian
Tidak semua aktivitas harus kita kerjakan sendiri. Ada hal-hal yang dapat kita delegasikan dengan syarat yang kita kerjakan memiliki prioritas lebih tinggi dari yang kita delegasikan.
Deadline
Deadline menolong kita untuk memberi ketegasan waktu penyelesaian, mendorong untuk bertindak, dan membuat kita lebih menghargai waktu.
Evaluasi
Periksa apa saja yang sudah dicapai dan belum dicapai. Lihat kemungkinana peningkatan kualitas dan bagaimana caranya. Perbaiki kekurangan yang ada.

            Simpulan:
1.      Tentukan tujuan hidup berdasarkan periode waktu, tuliskan. Jadikan kemuliaan Allah dan menikmati Allah sebagai tujuan akhir.
2.      Buat rencana jangka panjang dan pendek berdasarkan peran. Aktivitas dikelola dengan prioritas.
3.      Lakukan apa yang bisa dilakukan sekarang. Jangan tunda, disiplinlah! Waspada dengan “waste”.

Sumber:
TriExs. 2008. Time Management. Jakarta: TriExs media Inc.
Pembinaan pengurus PMKJ manajemen waktu tahun 2009.
Anonim. 2010. Mengetahui Tujuan Hidup. http://panggilanhidup.net/tag/tujuan-hidup
Ev. Chang Khui Fa. 2011. Time Management - Apa Itu Waktu? http://renunganyouth.blogspot.com/2011/09/time-management-apa-itu-waktu.html



PANGGILAN HIDUP MURID KRISTUS
Seorang tukang periuk tentu memiliki tujuan sebelum dia membuat periuk. Entah dia ingin membuatnya untuk dijual, untuk dirinya sendiri, atau untuk dinikmati bersama sebagai karya seni. Kemudian dia akan menentukan besar, bentuk, warna, dan interiornya. Apalagi Allah, Dia memiliki tujuan ketika menciptakan segala sesuatu termasuk manusia.
Di musim nyamuk, begitu banyak nyamuk masuk ke rumah kita dan mengganggu dengan gigitannya yang pedas. Saking jengkelnya, seorang teman di Facebook memasang di statusnya, “Untuk apa Tuhan menciptakan nyamuk?”
Memang semula, saya yakin, nyamuk tidak menggigiti darah Adam dan Hawa yang tidak mengenakan sehelai kain pun sebelum mereka jatuh dalam dosa. Tetapi kemudian ada kekacauan alam karena dosa Adam dan Hawa sehingga nyamuk pun bisa membawa kematian bagi manusia.
Tetapi nyamuk bukan tanpa kegunaan sama sekali. Paling tidak ada jutaan orang yang mendapatkan lapangan pekerjaan dari obat pembasmi nyamuk, raket pembunuh nyamuk, salep anti nyamuk, mulai dari produksi hingga penjualnya. Ada juga pembuat game tentang nyamuk. Ada film kartun tentang nyamuk. Dan seterusnya. Nyamuk juga menjadi salah satu makanan bagi  katak, cicak, dan burung tertentu. Memang tidak diketahui persis bagaimana nyamuk bisa menjadi penyeimbang ekosistem, tetapi para ahli mengatakan mungkin ada parasit-parasit atau zat-zat di dalam nyamuk yang belum diteliti tetapi berguna bagi penyeimbang ekosistem alam. (Baca lebih lanjut: “Untuk apa nyamuk diciptakan?“) Apa yang dianggap mengganggu bisa memiliki tujuan yang mungkin belum diketahui sekarang.
Semua pasti ada tujuannya tetapi tidak semua tujuan itu diketahui. Kalau dikaitkan dengan manusia, semua orang diciptakan dengan tujuan tertentu tetapi tidak semua orang mengetahui tujuan hidupnya. Jadi apa tujuan hidup manusia?
Katekismus Westminster, yang mengambil kesimpulannya dari Alkitab (Rm. 11:36; Mzm. 86; Yes. 60:21; 1 Kor. 6:20; Mzm. 16:5-11; 144:15; Why 21:3-4), mendefinisikan bahwa tujuan hidup manusia adalah “memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya.” Memuliakan Allah berarti membawa pujian, penghormatan, pengagungan, kemahsyuran, kepercayaan, dan penyembahan bagi Allah serta mencerminkan sifat-sifat Allah sendiri. Memuliakan Allah juga berarti menyenangkan Allah karena kemuliaan Allah berarti kekudusan Allah, kebesaran, dan kebenaran Allah. Menikmati Dia selama-lamanya berarti memiliki hubungan yang erat dengan-Nya baik di dunia ini maupun dalam kekekalan.
John Piper yang memulai gerakan Desiring God (Merindukan Allah) menafsirkan kalimat “memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya” menjadi “memuliakan Allah dengan menikmati Dia selama-lamanya.” Artinya kita tidak bisa memuliakan Allah tanpa memiliki hubungan yang erat dengan-Nya. Jadi tanpa Dia kita tidak bisa melakukan apapun atau tanpa hubungan yang erat maka apa yang kita lakukan seperti tong kosong nyaring bunyinya. Mungkin kita mengira telah melakukan banyak hal untuk kemuliaan Allah, tetapi ternyata tidak berkenan kepada-Nya karena kita melakukannya tanpa membangun hubungan dengan-Nya. Ini seperti nabi-nabi palsu yang melakukan mukjizat dan banyak hal positif lainnya tetapi tetap ditolak Allah karena Dia tidak mengenal-Nya. Dia tidak memiliki hubungan sama sekali dengan mereka.
Membangun hubungan dengan Allah itu sendiri bukan tujuan akhir. Pemuridan, ibadah, persekutuan, pelayanan, juga bukan tujuan akhir dari hidup kita. Bahkan usaha-usaha misi, menyelamatkan mereka yang terhilang, dan memperkenalkan nama Yesus ke seluruh penjuru dunia bukan tujuan akhir kita. Meskipun semuanya itu penting dan harus dilakukan, itu bukan tujuan hidup kita. Bisa dikatakan, semuanya itu sarana untuk mencapai tujuan akhir yaitu kemuliaan Allah.
Jadi tujuan hidup itu berpusat kepada Allah bukan diri kita sendiri. Bukan memaksimalkan potensi. Bukan hidup untuk kekayaan, popularitas, kedudukan, dan kesenangan kita sendiri. Bukan untuk orang lain. Bukan untuk memperbaiki keadaan. Bukan untuk memperbaiki dunia. Tetapi sekali lagi, Allah dan Allahlah yang menjadi tujuan akhir hidup kita. Melalui hidup kita, Allah dikenal, dipuji, dikagumi, ditinggikan, disembah, dan disenangkan.
Mengapa semuanya harus untuk Allah? Karena memang Dialah Pencipta. Pencipta memiliki kedaulatan penuh untuk tujuan Dia mencipta. Dan Dia mencipta memang hanya untuk kemuliaan-Nya. Di dalam natur-Nya (sifat-Nya), Dia memang mulia dan ingin dimuliakan. Dari Dialah segala sesuatu. Dialah yang membuat segala sesuatu bisa terjadi dan berlangsung. Jadi tidaklah salah kalau segala sesuatu adalah bagi Dia. Dia sungguh layak dimuliakan.
Tetapi kita tidak menjadi korban atau objek penderita karena memuliakan Allah. Sebaliknya, hidup kita menjadi lengkap. Menjadi utuh. Kita seperti sebuah alat elektronik yang menancap pada saluran listrik dan dipakai sesuai fungsinya. Kita tidak seperti microwave yang hanya dipakai untuk menyimpan gula dan kopi. Kita justru akan menikmati kebahagiaan sejati dan kekal karena kita telah memiliki hidup yang sesuai dengan tujuannya diciptakan, yaitu memuliakan Allah.

Selasa, 23 Oktober 2012

Tidak ada yang lebih buruk dari

Tuhan, sejujurnya untuk menulis ini juga aku tidak sanggup.
 Aku sudah menjadi batu sandungan dengan statusku di FB. 
Oh Tuhan, sungguh aku tidak layak disebut anakMu karena aku tidak mengerjakan yang benar, pikiranku pendek, aku tidak berhikmat, aku tidak mau mendengar dengan sungguh RohMu berbicara.

Tuhan..
aku menjadi batu sandungan..

Tidak ada yang lebih buruk daripada aku mempermalukan Engkau Tuhan.

Aku tidak tahu bagaimana menjadi berkat, ampuni aku Tuhan.

Aku menyesal. 
 (231012)