Minggu, 28 April 2013


PANGGILAN HIDUP MURID KRISTUS
Seorang tukang periuk tentu memiliki tujuan sebelum dia membuat periuk. Entah dia ingin membuatnya untuk dijual, untuk dirinya sendiri, atau untuk dinikmati bersama sebagai karya seni. Kemudian dia akan menentukan besar, bentuk, warna, dan interiornya. Apalagi Allah, Dia memiliki tujuan ketika menciptakan segala sesuatu termasuk manusia.
Di musim nyamuk, begitu banyak nyamuk masuk ke rumah kita dan mengganggu dengan gigitannya yang pedas. Saking jengkelnya, seorang teman di Facebook memasang di statusnya, “Untuk apa Tuhan menciptakan nyamuk?”
Memang semula, saya yakin, nyamuk tidak menggigiti darah Adam dan Hawa yang tidak mengenakan sehelai kain pun sebelum mereka jatuh dalam dosa. Tetapi kemudian ada kekacauan alam karena dosa Adam dan Hawa sehingga nyamuk pun bisa membawa kematian bagi manusia.
Tetapi nyamuk bukan tanpa kegunaan sama sekali. Paling tidak ada jutaan orang yang mendapatkan lapangan pekerjaan dari obat pembasmi nyamuk, raket pembunuh nyamuk, salep anti nyamuk, mulai dari produksi hingga penjualnya. Ada juga pembuat game tentang nyamuk. Ada film kartun tentang nyamuk. Dan seterusnya. Nyamuk juga menjadi salah satu makanan bagi  katak, cicak, dan burung tertentu. Memang tidak diketahui persis bagaimana nyamuk bisa menjadi penyeimbang ekosistem, tetapi para ahli mengatakan mungkin ada parasit-parasit atau zat-zat di dalam nyamuk yang belum diteliti tetapi berguna bagi penyeimbang ekosistem alam. (Baca lebih lanjut: “Untuk apa nyamuk diciptakan?“) Apa yang dianggap mengganggu bisa memiliki tujuan yang mungkin belum diketahui sekarang.
Semua pasti ada tujuannya tetapi tidak semua tujuan itu diketahui. Kalau dikaitkan dengan manusia, semua orang diciptakan dengan tujuan tertentu tetapi tidak semua orang mengetahui tujuan hidupnya. Jadi apa tujuan hidup manusia?
Katekismus Westminster, yang mengambil kesimpulannya dari Alkitab (Rm. 11:36; Mzm. 86; Yes. 60:21; 1 Kor. 6:20; Mzm. 16:5-11; 144:15; Why 21:3-4), mendefinisikan bahwa tujuan hidup manusia adalah “memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya.” Memuliakan Allah berarti membawa pujian, penghormatan, pengagungan, kemahsyuran, kepercayaan, dan penyembahan bagi Allah serta mencerminkan sifat-sifat Allah sendiri. Memuliakan Allah juga berarti menyenangkan Allah karena kemuliaan Allah berarti kekudusan Allah, kebesaran, dan kebenaran Allah. Menikmati Dia selama-lamanya berarti memiliki hubungan yang erat dengan-Nya baik di dunia ini maupun dalam kekekalan.
John Piper yang memulai gerakan Desiring God (Merindukan Allah) menafsirkan kalimat “memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya” menjadi “memuliakan Allah dengan menikmati Dia selama-lamanya.” Artinya kita tidak bisa memuliakan Allah tanpa memiliki hubungan yang erat dengan-Nya. Jadi tanpa Dia kita tidak bisa melakukan apapun atau tanpa hubungan yang erat maka apa yang kita lakukan seperti tong kosong nyaring bunyinya. Mungkin kita mengira telah melakukan banyak hal untuk kemuliaan Allah, tetapi ternyata tidak berkenan kepada-Nya karena kita melakukannya tanpa membangun hubungan dengan-Nya. Ini seperti nabi-nabi palsu yang melakukan mukjizat dan banyak hal positif lainnya tetapi tetap ditolak Allah karena Dia tidak mengenal-Nya. Dia tidak memiliki hubungan sama sekali dengan mereka.
Membangun hubungan dengan Allah itu sendiri bukan tujuan akhir. Pemuridan, ibadah, persekutuan, pelayanan, juga bukan tujuan akhir dari hidup kita. Bahkan usaha-usaha misi, menyelamatkan mereka yang terhilang, dan memperkenalkan nama Yesus ke seluruh penjuru dunia bukan tujuan akhir kita. Meskipun semuanya itu penting dan harus dilakukan, itu bukan tujuan hidup kita. Bisa dikatakan, semuanya itu sarana untuk mencapai tujuan akhir yaitu kemuliaan Allah.
Jadi tujuan hidup itu berpusat kepada Allah bukan diri kita sendiri. Bukan memaksimalkan potensi. Bukan hidup untuk kekayaan, popularitas, kedudukan, dan kesenangan kita sendiri. Bukan untuk orang lain. Bukan untuk memperbaiki keadaan. Bukan untuk memperbaiki dunia. Tetapi sekali lagi, Allah dan Allahlah yang menjadi tujuan akhir hidup kita. Melalui hidup kita, Allah dikenal, dipuji, dikagumi, ditinggikan, disembah, dan disenangkan.
Mengapa semuanya harus untuk Allah? Karena memang Dialah Pencipta. Pencipta memiliki kedaulatan penuh untuk tujuan Dia mencipta. Dan Dia mencipta memang hanya untuk kemuliaan-Nya. Di dalam natur-Nya (sifat-Nya), Dia memang mulia dan ingin dimuliakan. Dari Dialah segala sesuatu. Dialah yang membuat segala sesuatu bisa terjadi dan berlangsung. Jadi tidaklah salah kalau segala sesuatu adalah bagi Dia. Dia sungguh layak dimuliakan.
Tetapi kita tidak menjadi korban atau objek penderita karena memuliakan Allah. Sebaliknya, hidup kita menjadi lengkap. Menjadi utuh. Kita seperti sebuah alat elektronik yang menancap pada saluran listrik dan dipakai sesuai fungsinya. Kita tidak seperti microwave yang hanya dipakai untuk menyimpan gula dan kopi. Kita justru akan menikmati kebahagiaan sejati dan kekal karena kita telah memiliki hidup yang sesuai dengan tujuannya diciptakan, yaitu memuliakan Allah.

Selasa, 23 Oktober 2012

Tidak ada yang lebih buruk dari

Tuhan, sejujurnya untuk menulis ini juga aku tidak sanggup.
 Aku sudah menjadi batu sandungan dengan statusku di FB. 
Oh Tuhan, sungguh aku tidak layak disebut anakMu karena aku tidak mengerjakan yang benar, pikiranku pendek, aku tidak berhikmat, aku tidak mau mendengar dengan sungguh RohMu berbicara.

Tuhan..
aku menjadi batu sandungan..

Tidak ada yang lebih buruk daripada aku mempermalukan Engkau Tuhan.

Aku tidak tahu bagaimana menjadi berkat, ampuni aku Tuhan.

Aku menyesal. 
 (231012)

Jumat, 27 Juli 2012

Aku ingin tahu

Ke mana angin pergi aku ingin tahu
Apakah dia pergi kepada sebuah jiwa
aromanya melayang-layang di pikiranku
Gelisah

Jika engkau pergi maka berhentilah sebentar padanya
Bergeraklah dari ujung ke ujung matanya
Apakah bahagia ada di sana
Apakah rindu ada di sana
atau...
Kebimbangan ada di sana

Jika engkau pergi maka berhentilah sebentar padanya
Bawakan lah ini
Sebuah pita putih yang benangnya menjalin dari doa-doaku
Sematkanlah pada pergelangan tangannya

Aku ingin tahu
Aku ingin tahu
Aku ingin tahu
Gelisah


Senin, 23 Juli 2012

Detik-detik Ujung Genteng

01.07 am
Susah aku untuk mengingat tanggal berapa hari ini. Neuron-neuron di otak tidak lagi bersemangat untuk merangkai memori-memori menjadi suatu tanggal. Yang kuingat hari ini hari senin. Selasa waisak dan seharusnya kami sudah terlelap dalam mimpi masing-masing di mobil dan esok hari melihat mentari berseri di Sukabumi. 13, 14 bukan mungkin sekarang tanggal 15. Ah, susah sekali! Baiklah, mari melihat tanggal di benda yang menjadi teman setiaku belakang tahun ini. Well, ternyata hari ini tanggal 16.

Sent items: Pak Yayat trav, Pak Yayat trav. Fiuhh..

Sukabumi, Surade, Ujung Genteng. Tidak ada yang tahu akan apa yang bakal terjadi. Sedang pusaran angin bermain lembut di perutku akibat kesetiaan menunggu hantaran ke Sukabumi.
Belum datang juga. Berhasilkah kami?

Pepatah: it's not about destiny, it's about journey.
Haha.. bahkan kami belum berangkat kawan sejak 23:00 kemarin dan yang lain terlelap....

Sabtu, 02 Juni 2012

keberanian dan sedikit kebodohan

Di luar,  kata lain " i love you " sama dengan " you are in my heart "
Sampai saat ini, aku bisa bilang " you are in my mind "

(tulisan ini dibuat dengan keberanian dan sedikit kebodohan)

Hukum alam vs Tuhan??

Bumi adalah planet tempat manusia, hewan dan tumbuhan ada. Ia berputar pada porosnya dan bergerak mengelilingi matahari. Selain bumi, planet lain Merkurius, Venus,  Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus juga berputar mengelilingi matahari dengan jarak antar planet dan matahari yang berbeda dan teratur satu dengan lainnya. 

Teratur. Apa kabar kalau tidak ada keteraturan ini? Planet bisa saja saling menjauh dan mendekat. Bumi bisa menabrak matahari sehingga hancur atau bisa menjauh dari matahari sehingga bumi beku. Tidak ada yang namanya siang dan malam, jauh dari itu, tidak ada  manusia, hewan dan tumbuhan, karena ketiga makhluk ini hanya bisa hidup dalam keteraturan itu.  Bumi dan planet lain seakan digantung tanpa tali dan bergerak mengikuti irama keteraturan yang telah diciptakan. Sempurna, indah. 

Tidak ada keteraturan jika tidak ada yang membuatnya teratur bukan? Terpujilah Tuhan Alam Semesta karena sistem keteraturan yang Ia ciptakan. Kita bisa sebut sistem keteraturan ini dengan hukum alam. Jika kita tebang pohon sehabis-habisnya maka akan terjadi banjir. Jika kita tanam pohon maka udara akan menjadi bersih. Hukum alam seperti hukum tabur tuai, sebab akibat. Itu adalah hukum alam, semua bisa dijelaskan tiap kejadiannya. Jadi jangan bilang kalau tsunami pertanda Tuhan murka atau banjir bandang karena Tuhan menghukum kita akibat dosa kita. Dia sendiri pernah berjanji tidak akan sekali-kali melakukan penghukuman dengan alam setelah air bah, lihat pelangi janjiNya. 

Apakah hukum alam lebih berkuasa dari Dia sendiri yang menciptakan? Pertanyaan ini sama dengan pertanyaan yang pernah dilontarkan seorang teman lewat status media sosial kira-kira: apakah Tuhan tidak bisa mengangkat batu yang begitu besar yang Ia ciptakan sendiri? 

Cek kejadian ketika Musa dan bangsa Israel dikejar-kejar Firaun dan pasukannya. Mereka tiba di pinggir laut Teberau, terdesak. Apa yang terjadi? Laut Teberau terbelah, Musa cs bisa menyeberang dengan menginjak tanah yang kering. Ini bisa dijelaskan. Laut Teberau terbelah karena terjadi tiupan angin timur yang sangat keras di permukaan air laut tersebut. Tepat setelah Musa cs selamat, angin timur berhenti dan Firaun cs akhirnya ditelan amukan laut Teberau yang bersatu kembali. Kenapa bisa tepat waktunya??? Ini yang dinamakan mujizat Tuhan. Ia yang mengatur timing hukum alam. Dia berkuasa atas apapun, juga hukum alam yang Ia ciptakan.

Sekali lagi terpujilah Tuhan untuk hukum alam yang diciptakanNya. Ada sebab ada akibat, bisa dipelajari dan dijelaskan. Semuanya tetap dalam tangan Tuhan yang berkuasa. 







Minggu, 20 Mei 2012

Dear Lord

Bapa yang sangat baik dan mengasihiku
ajarku mengenalmu 
dan tolong aku percaya pada firmanMu

Inilah keinginanku 
menjadi kesenangan bagiMu
Sang Penonton Tunggalku

Aku mengasihiMu, Bapa yang mengenal setiap hati.